Analis Media adalah Pekerjaan Sungguhan

Maaf mengejutkan Anda, tapi Analis Media atau Media Analyst memang sebuah pekerjaan sungguhan yang ada di bumi ini. Setelah bertahun-tahun menggeluti profesi ini, saya mulai mengerti — dilihat dari deskripsi pekerjaan selama ini — kalau Analis Media juga dapat disebut sebagai Peneliti Media (Media Researcher) atau Media Scientist.

Sebagai Analis Media di perusahaan konsultasi urusan publik dan komunikasi strategis, Kiroyan Partners, saya membantu para konsultan dan klien memahami isu yang relevan dengan urusan/krisis yang sedang atau akan ditangani, misalnya di bidang pertambangan, politik, litigasi, infrastruktur, transportasi online, retail, perkebunan, dan apapun isu di Indonesia.

Seluruh pekerjaan saya bersentuhan dengan secondary data collection (desk research) dan document studies (national, regional regulations, academic publications, etc); yang menjadi pondasi dalam memetakan, jika tidak menjabarkan, isu yang sedang atau akan kami hadapi.

Artinya, media sosial, cetak, online dan dokumen-dokumen relevan yang dapat diakses publik menjadi sumber utama saya dalam menyusun brief yang akan dipakai oleh para konsultan maupun untuk dituangkan ke dalam proposal, report, atau issues analysis paper untuk klien.

Sederhananya, saya memperjelas apa yang kurang atau bahkan belum jelas, dan menyederhanakan hal-hal yang masih rumit dijelaskan berdasarkan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, secara profesional, saya harus memiliki intuisi yang terasah terhadap berbagai isu di berbagai industri, news selection judgment skill, issues analysis skill dan media analysis skill yang mumpuni untuk menyusun produk pekerjaan yang sifatnya intelligence.

Jika tidak? Pemahaman konsultan terhadap suatu isu bisa kacau. Masalah klien bisa tambah rumit, dan bahkan reputasi perusahaan kami bisa runtuh.

In a nutshell, saya harus melek media. Bahkan, mungkin saya harus bisa melihat media, khususnya berita, jauh lebih dalam dari itu.

Literasi Media


Selama kuliah di program studi Bahasa dan Sastra Inggris UPI dengan konsentrasi Linguistik, saya diajarkan oleh para dosen untuk menjadi pribadi yang kritis, bersikap skeptis terhadap banyak hal, dan mendobrak nilai-nilai konvensional dalam berpikir maupun bertindak.

Hal tersebut ternyata terasa manis buahnya saat ini. Saya menjadi tidak mudah lompat pada satu kesimpulan ketika menangani suatu isu yang dialami klien. Jadi tidak gegabah.

Hubungannya dengan literasi media, berdasarkan observasi dan pengalaman profesional, saya ingin berbagi 10 poin praktis (tidak harus dilakukan secara runut) mengkonsumsi media secara lebih cerdas (mudah-mudahan) di masa depan.

Semoga bermanfaat!

***

Ijey adalah alumni program studi Bahasa dan Sastra Inggris angkatan masuk 2008. Saat ini ia bekerja sebagai analis media dan penulis lepas. Blog pribadinya bernama Meizarology. Hubungi Ijey via Email, Twitter, Facebook, Soundcloud, dan LinkedIn.