Saya tidak pernah membayangkan akan kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan bahkan mencintai mengajar Bahasa Inggris.

Sejak kecil, orang tua saya sudah membiasakan saya untuk menyukai buku. Mereka membelikan buku apapun yang saya inginkan di toko buku, berlangganan majalah anak-anak untuk saya dan adik saya baca, bahkan memotivasi saya untuk menulis. Bahkan mereka pun sudah menjadi role-models yang baik dalam menumbuhkan minat baca dan tulis saya. Maka sejak kecil, tulisan-tulisan saya sudah berseliweran di Majalah Orbit dan Belia Pikiran Rakyat, bahkan cerita lucu saya pun pernah dimuat di rubrik Barakatak Majalah Mangle.

Maka tidak heran bila menjelang kelulusan SMA, saya lebih tertarik untuk menekuni bidang jurnalistik. Pada saat itu saya begitu ingin menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD.

Sayangnya, orang tua saya tidak mengijinkan saya kuliah di UNPAD, karena lokasinya jauh dari rumah (± 26 km). Selain itu, mereka berhasil meyakinkan saya bahwa sebelum menjadi jurnalis saya harus menguasai Bahasa Inggris terlebih dahulu. Dengan berat hari, saat pendaftaran SMPTN tahun 2006, saya mengambil Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan UNPAD sebagai pilihan pertama, karena lokasi kampusnya di Dago; dan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI sebagai pilihan kedua.

Dan akhirnya saya menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UPI sejak 1 September 2006.

Di tahun pertama perkuliahan, rasanya begitu banyak hal yang harus dipelajari. Pada saat itu saya belum menguasai bahasa Inggris dengan baik, karena kami terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari (walaupun bahasa Inggris adalah bahasa ibu saya).

I also felt that everyone was expecting professor’s daughter to be excellent. It was a tough first year.

Namun, di tahun-tahun berikutnya, saya mulai menyukai apa yang saya pelajari. Saya mulai menyadari bahwa guru berkualitas adalah salah satu pilar yang memajukan pendidikan suatu negara. Pepatah yang mengatakan bahwa ‘Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa’, terasa begitu nyata. Bahwa ada begitu metode pembelajaran menarik yang bisa membuat para siswa jatuh cinta dengan pembelajaran bahasa, khususnya yang saya dapatkan dari perkuliahan English for Young Learners dan Teaching English for Young Learners. Pun, ada begitu banyak Teacher Resources Books yang bisa digunakan untuk mengembangkan pembelajaran yang menarik.

Saya pun memulai karier mengajar saya di tahun 2009 di Balai Bahasa UPI.

Sometimes my lesson plans work, sometimes they don’t.

Saya pun menghadapi berbagai macam karakteristik siswa dengan berbagai proficiency level. Terkadang, ada perasaan bersalah karena rasanya apa yang saya berikan belum maksimal. Tahun demi tahun, saya merasakan banyak peningkatan dalam kemampuan dan kreatifitas saya mengajar.

Then I realize that someone can start loving English subject just by starting to love his/her teacher.

Ada hal-hal sederhana yang melampaui batas kebahagiaan saya sebagai guru bahasa Inggris. Dua momen terbaik yang pernah saya alami adalah saat para murid menunjukkan keberhasilan mereka dalam bahasa Inggris dan saat mereka hanya ingin melanjutkan kelasnya bersama saya.

Now, I even feel more grateful to work with my students as working partners.

Guru Bahasa Inggris Abad 21

Ada masa-masa di mana siswa saya terdistraksi dengan ponsel mereka saat kegiatan pembelajaran. Maka biasanya di awal pertemuan saya menyusun peraturan mengenai penggunaan ponsel di kelas. Pada saat itu, belum terpikirkan bahwa sebenarnya ponsel dapat digunakan sebagai media pembelajaran.

Saat para generasi muda sudah begitu dekat dengan Youtube, Instagram, Facebook, Twitter (dan lainnya), para guru bahasa Inggris sebaiknya menggunakan media-media tersebut dalam pembelajaran. Pendekatan Blended Learning dapat dijadikan pilihan yang tepat.

Secara umum, Blended Learning (selanjutnya BL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisional dengan media digital. Berikut adalah salah satu komentar saya mengenai pengaplikasian BL (setelah mempelajarinya di FutureLearn.com) yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Captured from ‘Comment’ section of Sector 2.2 (Pedagogy of Blended Learning) from Blended Learning Essentials: Getting Started

Melalui berbagai macam online courses, secara tidak langsung saya mempraktikkan BL sebagai siswa. Now I’m very excited to implement BL as a teacher. Sila cek tautan berikut FutureLearn.com: Blended Learning Essentials, untuk mempelajari BL lebih lanjut.

Berbagai literatur sudah mengampanyekan pentingnya mempersiapkan generasi dengan 21st Century Skills (salah satunya adalah ICT Literacy), maka para guru bahasa Inggris pun harus menjalankan perannya. Mereka harus siap beberapa langkah lebih awal, khususnya dalam teknologi, karena mereka harus mempersiapkan para digital natives agar memiliki daya saing tinggi. Sila baca artikel berikut: 15 Characteristics of a 21st-Century Teacher. BTW, mungkin sudah seharusnya Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris memiliki mata kuliah Teaching English with Technology ya.

Image from: What are the 21st-century skills every student needs?

Sekarang, mari menciptakan Indonesia yang kita dambakan. Saya akan berkontribusi dengan menerapkan Blended Learning sebagai upaya saya menciptakan generasi yang mahir berbahasa Inggris dan juga mumpuni di dunia digital.

So, what will be your contribution?

Last, but not least…

I come to a conclusion that sometimes life doesn’t want you to conquer your dream, just because something bigger and better is working: parents’ prayer. Dear Mom & Dad, thanks for leading me to a place where I’d rather be.

Indiana Ayu Alwasilah is Academic Director at Semesta Learning Evolution (SLE) and Curator at AntologiSenja. Her personal blog is The Very Thoughts of Indiana, and connect with her through LinkedIn.

Sudah daftar untuk acara A Day with Alumni (ADwA)? Temui Indi di acara ADwA! Klik di sini untuk mengetahui informasi selengkapnya.