unsplash

Gedung PKM UPI, 2006

Seorang siswa SMAN 24 Bandung bernama Maulana sedang menatap Gedung PKM UPI dari luar, lalu memandang ke sekelilingnya. “Ini kampus gede amat ya,” ujarnya dalam hati.

Teman-teman sekelas Maulana akhirnya keluar satu per satu dari Gedung PKM. Mereka semua sudah ganti baju dan membersihkan make up yang mereka kenakan untuk keperluan drama performance competition yang diadakan oleh English Students’ Association (ESA) alias Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Tebak apa nama event-nya? Yup, AECS.

Maulana sekali lagi melihat sekelilingnya — banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mengenakan jas almamater warna abu-abu (atau biru tua telur asin? Whatev’). Terakhir, ia menatap lekat gedung berbentuk kue tart yang belum ia ketahui apa namanya.

Hih, amit-amit kalau aku kuliah di UPI. Tua di jalan yang ada. Secara DEKET IH dari Cibiru ke UPI,” gumam Maulana lagi sambil mengikuti teman-temannya yang berbondong-bondong menuju parkiran di mana angkot yang sudah mereka sewa sudah menunggu mereka dari pagi.

Mereka pun pulang ke Ujungberung — lokasi SMAN 24 Bandung berada — tanpa menunggu pengumuman apakah mereka menjuarai drama performance competition yang mereka ikuti atau tidak. Keesokan harinya, mereka mendapat kabar dari panitia bahwa mereka juara 2.

[ ]

Kamar Maulana, 2008

Maulana sedang mengisi formulir untuk menjadi peserta SNMPTN. Ia mantap dengan pilihan pertamanya karena itu yang sudah ia impikan dari kelas 3 SMP. Namun, ia masih bingung memilih pilihan keduanya. “Sastra Inggris aja kali ya?” tanya Maulana kepada diri sendiri. “Wait, Sastra Inggris yang paling bagus apa sih di Bandung? Katanya sih yang di UPI ya. Hmmm… yaudah lah ya pilih Sastra Inggris UPI aja. Toh udah pasti masuk pilihan yang pertama ini.”

Well, well, well, itu adalah terakhir kalinya Maulana ke-pede-an.

[ ]

Angkot Jurusan Cicaheum — Ledeng, Agustus 2008

Maulana banyak mengeluh selama di angkot. Ia sudah mulai naik angkot dari Cibiru ke Cicaheum. Namun, perjalanannya menuju ke UPI untuk daftar ulang masih jauh. Jika tidak macet, ia, Deastika, dan Lathifah — teman sekelasnya yang juga lolos masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI — akan sampai di UPI sekitar satu jam lagi.

Njiiir… gak kebayang tiap hari pulang-pergi total yang aku habisin di jalan itu empat jam. EMPAT JAM. Dan itupun kalau nggak macet!” batin Maulana sambil menjambak poninya sendiri. “Jangan-jangan ini semua gara-gara omongan sompral aku waktu tahun 2006…”

[ ]

Ketika Dapet Mata Kuliah Reading for General Communication

“Lha kuliahnya kayak di tempat les-les gitu toh. Lumayan lah ya buat aku yang skill English-nya masih jongkok-sejongkok-jongkoknya ini,” ujar Maulana.

[ ]

Ketika Dapet Mata Kuliah Foundation of Linguistics

“Ya Allah ini kenapa mata kuliahnya jadi pusing gini?” ujar Maulana sambil memijit-mijit dahinya.

[ ]

Ketika Dapet Mata Kuliah Phonetics & Phonology DAN Statistics for Language Studies

Fixed, salah pilih jurusan…”

[ ]

Ketika Dapet Mata Kuliah Exploring Drama

“Hah? Kita harus mentasin naskah Our Town ini di Gedung PKM?” tanya Maulana kaget. Kekagetannya bertambah saat teman-teman sekelasnya menunjuknya sebagai Stage Manager — salah satu narator di cerita Our Town yang bisa berinteraksi langsung dengan para tokoh utama.

Dalam hati, lagi-lagi Maulana mengeluh, “Yaelaaah ngapalin lirik lagunya Lady Gaga aja masih sering ketuker-tuker, apalagi ngapalin naskah panjang kayak gini. Why do bad things happen to a cute unicorn like me?”

[ ]

Gedung PKM UPI, 2010

Maulana datang tepat waktu (tumben) ke tempat pementasan ia dan teman-temannya nanti siang. Ia berdiri tepat di depan Gedung PKM dan menatapnya lekat. “Kok déjà vu ya?” Ia menghela napas panjang dan masuk ke gedung itu.

“Ganti baju? Done. Make up? Done. SMS si nganu buat wish me luck? Mehehehe.. done,” Maulana memasukan ponselnya ke saku celananya dan urat lehernya mendadak menegang. Sudah lama ia tidak tampil di depan banyak pasang mata yang — mungkin — berekspektasi lebih. Ia mengintip para penonton dari back stage dan lagi-lagi mengalami déjà vu.

Oh my God ini kan kayak waktu tahun 2006 dulu!”

Spotlight menyala.

Maulana melangkahkan kakinya dengan ragu ke tengah stage.

Maulana tidak bisa melihat penonton sama sekali karena spotlight yang terang benderang.

Selama tiga detik, Maulana mencoba membiasakan pandangannya. Selanjutnya, seperti mukjizat. Maulana tahu bahwa pronunciation-nya bukan yang terbaik. Heck, dia bahkan ngarang ketika lupa beberapa kata yang harus dia ucapkan. Sama persis seperti ketika ia menjadi seorang peri yang mengutuk Pangeran Guruminda menjadi seekor Lutung Kasarung di pementasan drama pada tahun 2006 lalu. Bedanya, sekarang, tokoh yang ia perankan jauh lebih serius. Ia lebih percaya mengucapkan semua lines. Ia lebih menikmatinya.

Pertunjukkan selesai. Semua penonton bertepuk tangan riuh. Semua mahasiswa dari kelas B berkumpul di stage dan memberikan salute. Setelah itu, mereka semua saling berpelukan dengan penuh rasa haru. It was all paid off.

Maulana masih merangkul beberapa temannya sambil menatap wajah mereka satu per satu, lalu tersenyum dan matanya sedikit agak hangat. “Kalau aku gak kejeblos masuk UPI, bakal ketemu sama temen-temen kayak mereka gak ya?” batinnya.

[ ]

Sorenya, Maulana melangkah ke luar Gedung PKM dan melihat sekelilingnya. “Ini kampus gede amat ya,” ujarnya. “Ngangenin…”

Tiba-tiba, ada SMS masuk ke ponsel Maulana. “So, how was it? Bet it was awesome.”

Maulana tersenyum menatap ponselnya seperti orang yang rada-rada. “Kalau gak kejeblos masuk UPI, bakal ketemu orang ini yang gak kalah ngangeninnya gak ya?”

***

Ranna Subhan (Maulana Subhan Fuad) adalah alumni dari Program Studi Bahasa & Sastra Inggris angkatan masuk 2008. Saat ini ia sekarang bekerja sebagai copywriter dan content writer. Setiap hari ia berkicau di @_rannah.