wikigogo.org

Kampus, satu gedung segudang pengetahuan, satu mahasiswa beribu menit terbuang.

Tak bisa dipisahkan memang. Bukan kampus kalau tak ada mahasiswa, dan bukan mahasiswa kalau gak ngampus. Semuanya tentang pengalaman; pengalaman berkarya, pengalaman memperluas link, pengalaman kerja sampingan, pengalaman berorganisasi, dan pengalaman tak punya uang.

Intinya mahasiswa ngampus adalah lulus menyandang gelar sarjana, tak peduli berapa lama, tak peduli bisa apa, tak peduli IPK berapa. (eh, peduli deng!)

Sebelum lulus, tentulah banyak kuliah yang harus dilewati. Ditambah Kuliah Kerja Nyata (KKN), ujian praktek, presentasi, dan sidang. Ibarat perang, banyak yang gugur di medan pertempuran kuliah sebelum sidang skripsi.

Bicara soal sidang, ada pengalaman menarik. Tunggu dulu, ini bukan saya yang sidang, tapi seseorang lain.

Jadi, sehari sebelum hari sidang, saya berjanji pada seseorang akan mendampinginya dari pagi hari sampai selesai. Sampai selesai artinya sampai semua proses sidang beres. Termasuk menunggu giliran dan pengumumannya yang lebih lama daripada sidang itu sendiri.

Di hari H sidang, Hmmm.. cerah sekali matahari bersinar, ya karena memang hari sudah tak pagi lagi. Seperti biasa, bangun siang dan terlambat; hal lumrah dalam hidup saya sejak SMP.

Wow, hari spesial untuk seseorang spesial dan saya masih saja terlambat.

Datang menemui seseorang yang sudah mengantri menunggu giliran sidang dan menunggu saya menepati janji, saya bertatap muka dengan matanya yang mengecil melihat dendam.

Tak apa,” katanya. Ya sudah kalau tak apa-apa.

Sialnya saya lupa kalau dia wanita, dan juga melupakan arti kata “tidak apa-apa” yang sebenarnya ketika diucapkan seorang wanita.

Ah, Tidak perlu saya ceritakan apa yang terjadi ketika menunggu pengumuman, namanya juga menunggu, pastilah membosankan untuk diceritakan.

Singkat cerita, akhirnya acara puncak yang ditunggu-tunggu dari rangkaian sidang skripsi, pengumuman kelulusan, tiba. Entahlah apa hasilnya, yang pasti semua yang saya kenal, lulus tanpa revisi.

Sorak. Riuh. Gaduh. Mahasiswa dengan bangga menyombongkan pundaknya yang berganti status dari mahasiswa menjadi pengangguran.

Dinyatakan lulus kuliah, hal yang wajar untuk dibanggakan bukan?

Semua bersalaman, saling mengucapkan selamat; kepada sesama yang lulus, atau dari yang belum lulus seperti saya ke yang lulus. Saya datang untuk mendampingi seseorang dan saya bersamanya seharian penuh, bahkan setiap hari saya mendampinginya selama 4 tahun. Karena dia memang pacar saya.

Saat semua merayakan kelulusan sidang, saya bersalaman dengan semua yang lulus dan memberi ucapan selamat. Tapi ada satu wanita yang tidak saya salami; karena saya tahu, jika saya salami maka akan terjadi perang dunia ke-3 antara saya dengan pacar.

Demi menjaga perdamaian dunia, maka saya hanya melempar senyum ke arahnya. Bahkan senyuman pun tetap saja peperangan tidak bisa dihindarkan.

Forbidden Smile Tragedy, saya menyebutnya.

Tak ada lagi hubungan. Jangan temui lagi. Jangan ikuti lagi. Itulah langkah yang diambil seorang wanita ketika cemburu, tapi saya berjuang untuk mengejar dan dia selalu menghindar.

Empat tahun bersama rusak karena sebuah senyuman kepada ia yang ketika itu memang pantas mendapatkan senyuman. Saya tetap mengejarnya hingga wisuda, walau tak diberi tahu saat dia wisuda.

Loncat ke hari saya sidang, matahari belum terbit. Tapi, cermin bilang saya sudah tampan.

Jangan terlambat,” kataku. Enam pria gagah dengan jas dan sepatu mengilap berangkat hadapi sidang.

Tak ada pendamping bahkan sampai saya wisuda.

Kampus, akhir yang indah adalah lulus. Bukan ada pendamping.

Itu kalimat pembelaan saya.

:’(

***

Muhammad Arizal Rukmana adalah lulusan program studi Bahasa dan Sastra Inggris, angkatan masuk 2009. Pemuda kelahiran Wonogiri ini merupakan Presiden English Literature Forum (ELF) 2011–2012 dan Presiden My Pride League 2013–2014.